*-* Sebuah Cerpen Imajinasi Fiktif *-*
Dari Dunia Imajinasi, 28 – 30 September 2010 “
Doank Muhammad Anwar
Di sebuah rumah kayu, di balik bukit yang mulai gersang…
Kursi rotan tua warisan nenek moyangku berderit ketika tubuh tua bermata tajam itu menggeser letak duduknya. Seolah gambaran suasana dalam hatinya yang ingin menjerit namun terhalang raga fisiknya yang lemah.
Sambil memegang gagang canngkir kopi hitam kesukaannya, sosok yang namanya menjadi angker di perjalanan sejarah negeri ini, Aidit, berkata: “45 tahun aku berlari, kawan. Aku kira negeri ini akan jadi lebih baik dengan pelarian dan tercorengnya nama baik anak cucuku”.
Berdiri membelakangi sinar matahari siang, sesosok tubuh lain yang masih tegap kontras dengan kisaran usianya ikut membuka suara.
“Andai aku jadi mati saat itu, kawan. Mungkin Pintu kuburku selalu terbuka, menerima keluhan yang sangat banyaknya dari para rakyat jelata yang terbantai menyusulku”, Letkol Untung, nama yang selalu menjadi duet stempel hitam dari sosok Aidit. Kehidupan persembunyian di belantara hutan menempa fisiknya menjadi tetap kekar, berbanding terbalik dengan siratan aura wajahnya yang teduh.
“Jangan lagi kau persenjatai Petani sebagai Angakatan ke Lima, kawan. Mereka telah jadi Korps Gapoktan, HKTI dan sejenisnya.. mereka telah nyaman dan enggan untuk kau suguhi cita-cita tentang revolusi”. Aku, pun turut mengeluarkan gelisah pikiranku. Aku, orang termuda di pertemuan sekali setahun ini.

