GEBYAR KERONCONG 2009 SE-JAWA

Juli 2, 2009

Logo Gebyar KeroncongEksistensi Musik Keroncong sebagai Warisan Seni &  Budaya Indonesia seiring Perkembangan Jaman

PRAKARSA KATA KATA

Sering terlontar kalimat seperti ini : Keroncong adalah musik asli Indonesia. Memang kita bisa mengakui, bahwa keroncong hanya ada di Indonesia. Namun barangkali yang mustinya  tepat untuk dipahami adalah Keroncong adalah musik hasil campuran beberapa kebudayaan yang ada di  Nusantara.

MENGAPA DEMIKIAN ?!

Mari kita menengok kembali pada awal sejarah, bahwa Keroncong sebenarnya didatangkan oleh Bangsa Portugis ketika pada masa ekspansinya mencari daerah rempah-rempah pada abad 16 di Indonesia Timur. Yang kemudian dibawa para Mardijkers (para budak yang diberi hak merdeka oleh kolonial Portugis) ke Kampung Tugu, Batavia ketika Belanda mulai memasuki Nusantara dan mengambil alih koloni Portugis dan berkembang hingga melahirkan berbagai jenis Keroncong.

Keroncong, memiliki hubungan historis dengan musik Portugis. Beberapa istilah menyebut fado,  semacam musik folk Portugis yang menjadi gaya untuk diadopsi. Ketika Portugis mencari rempah rempah di Tanah Maluku, para budak Ambon memainkan musik ini. Yang kemudian oleh Belanda dibawa ke Batavia, maka di Kampung Tugu (tempat keturunan budak-budak Portugis dari Ambon) sejarah keroncong dimulai dari sini, di akhir abad ke 16 saat kekuasaan Portugis mulai melemah di Nusantara.

Meski dibawa Bangsa Portugis sekitar tahun 1600-an, tetapi musik ini baru berkembang sebagai musik keroncong pada akhir abad 19, sekitar tahun 1870-an. Bentuk awalnya disebut moresco. Moresco diiringi sejumlah alat musik dawai seperti biola, ukulele, serta cello. Kadang juga pakai alat perkusi. Set orkes semacam inilah yang kelak dipakai oleh keroncong Tugu-bentuk keroncong yang masih dimainkan oleh komunitas Kampung Tugu, Cilincing, Jakarta Utara. Reportoar yang dimainkan dikenal sebagai lagu-lagu stambul. Bentuk permainan ini meluas sampai Kemayoran dan Gambir.

Dan keroncong melenggang dengan dinamikanya kian pesat. Muncul periode “keroncong abadi” (1920-1959) yang didalamnya bersemarak bentuk Stambul, Keroncong Asli dan Langgam. Yang disebut terakhir adalah bentuk adaptasi keroncong terhadap music gamelan Jawa. Langgam memiliki ciri khusus pada penambahan instrument antara lain siter, kendang (bisa diwakili dengan modifikasi permainan cello antar kendang), saron, dan adanya bawa atau suluk berupa introduksi vocal tanpa instrument untuk membuka sebelum irama dimulai secara utuh.

Periode selanjutnya, keroncong modern (1959-sekarang). Dikenal dengan sebutan Keroncong Pop atau Keroncong Beat, konon keroncong ini sejalan dengan perkembangan musik pop pada waktu itu yang kena pengaruh Rock ‘n Roll. Lagu Barat, lagu Indonesia, maupun lagu daerah diiringi dengan keroncong Beat. Misalnya Na Song Nang Da Hito (lagu Batak), Ayam Den Lapeh (Padang), Pileuleuyan (Sunda) dan sebagainya. Perkembangan musik ini memuncak dengan munculnya musik Campursari, ini babak yang cukup ekstrem. Jika sebelumnya Keroncong dimainkan dengan peralatan akustik (tanpa listrik), disini keroncong sudah harus dimainkan dengan alat-alat campuran Akustik-Tradisional dan Elektronik-Barat.

Sampai pada level Campursari, Keroncong lantas seolah taman pusaka yang terbuka bagi persemaian musik apapun.  Banyak keroncong baru bermunculan, ada yang muncul baru atau menaransilir ulang musikalnya, sampai yang memasukkan lagu-lagu non keroncong yang diolah ala keroncong. Eksperimentasi yang ekstrem dengan campuran jenis aliran musik lain yaitu dengan lagu-lagu rock, blues, jazz dalam adonan ensambel keroncong yang menakjubkan. Ensambel yang terdiri dari ukulele cuk, cak, gitar akustik, biola, flute, cello (yang dipetik) dan kontrabas (juga dipetik) ini menari nari dalam riuhan rock yang rancak.

KELANGENAN SEMATA?

Tapi era “keroncong campursari” ini bisa dibilang matinya perkembangan musik keroncong. Dalam artian, keroncong asli, stanbul, langgam kini tinggal kenangan. Tiada lagi gending baru diciptakan, paska Gesang, Waljinah atau Mus Mulyadi. Keroncong praktis mandeg di era ini. Bahkan beberap pihak berpendapat bahwa ia memang mesti diperlakukan seperti ini, supaya tak sekedar menjadi kelangenan, supaya menjadi taman pusaka bagi persemaian keroncong baru yang lahir kemudian. serta beberap pihak lain mencoba membangunkan eksistensinya dengan berbagai macam aransemen baru dan menjadi lebih bercampur dengan jenis musik lain.

Maka jika kembali pada pernyataan diawal, memang musik keroncong berasal dari dan menjadi warisan seni dan budaya Indonesia, sehingga tidaklah berlebihan apabila “Keroncong” dikatakan sebagai jati diri musik Indonesia, seperti halnya Fado sebagai musik Portugis, “Blues” sebagai musik kulit hitam Amerika, “Tango” sebagai musik  Argentina,  “Flamenco” sebagai musik  Spanyol, atau “Samba” sebagai musik Brazil yang tidak sekedar dinyanyikan melainkan juga dirasakan secara mendalam.

THE HYBIRD CULTURAL

Yang musti dengan tepat kita pahami bahwa pada dasarnya tidak ada yang asli didunia ini, karena seluruh hasil-hasil kebudayaan akan melalui proses akulturasi yang saling mempengaruhi. Termasuk ketika terjadinya percampuran budaya keroncong dengan budaya lokal yang akhirnya melahirkan keroncong hibrida. Yaitu keroncong yang bertolak dari tata cara/aturan hukum-hukum konvesional yang kemudian membentuk hukum-hukum keroncong baru. Semua ini tentu saja juga terjadi saat proses pembentukan nilai-nilai estetika keroncong baru.

RUANG EKSISTENSI

“Musik keroncong kini hampir tidak menunjukkan eksistensinya lagi, baik lewat penciptaan lagu maupun pementasan. Kalau dulu sering dijumpai pementasan music di tempat tempat hiburan, hajatan, syukuran dan acara lainnya. Kini semua nyaris tak pernah dilakukan. Ini sesungguhnya cukup ironis jika berbanding dengan data yang ditemukan, tentang jumlah data Grup Keroncong yang masih eksis. Data yang disampaikan Singgih Sanjaya, di Yogyakarta saja terdapat lebih dari 35-an grup Keroncong. Di Semarang ada sekitar 28, demikian juga Solo yang dikenal sebagai Kota Keroncong karena memiliki banyak legenda keroncong saat ini memiliki 30 gup keroncong aktif. (Majalah Gong, No 105/IX/2008)

MUSIK KERONCONG TIDAK SESUAI LAGI DENGAN PERKEMBANGAN ZAMAN?

Bisa iya, bisa tidak. Karena sampai pada detik ini keroncong belum lenyap ditelan bumi. Walau patut diakui, keroncong memang sudah tak bisa berada dipermukaan lagi. Hadirnya eksperimentasi pada musik keroncong yang muncul pada dasawarsa terakhir ini, seperti yang dilakukan Marco Manardi dengan grup Congrock atau keroncong Rock. Erwin Gutawa menyanding penyanyi Langgam Waljinah dengan Chrisye dalam lagu Semusim pada album “Badai Pasti Berlalu”, Bondan Prakoso dan Fade2Black menghadirkan keroncong lewat karyanya “Kroncong Protol” dalam dimensi industrial, sebetulnya juga merupakan upaya luhur untuk tetap mempertahankan keroncong. Sebenarnya fenomena ini telah lama terjadi sejak akhir dasawarsa 60-an dari industri musik pop Indonesia yang mulai melangkah, mulailah musik anasir keroncong yang dipadu dengan perangai musik pop.

Semangat pop dengan rincian seperti aransemen sederhana, melodi yang catchy memang merupakan rumus dagang yang tak terbantahkan. Menyusupnya tren dalam kandungan tata musik semisal rock, rap, hip hop, reggae, jazz dan entah apa lagimerupakan adonan yang bisa lebih mendekatkan diri pada kuping penikmat music yang usianya dalam setiap generasi tetaplah dari golongan anak muda.

Namun perdebatan dari kalangan pelaku keroncong, selama ini masih saja bermuara pada asli atau tidak asli, pakem atau tidak pakem musik keroncong. Sehingga akan ada teriakan keras dan kritikan tajam, ketika ada beberapa pihak yang mencoba bereksperimen dengan musik keroncong. Dan akan ada argumentasi pembelaan balik dari eksperimentor bahwa ini sebagai bagian upaya pengembangan dan mempertahankan eksistensi musik keroncong itu sendiri. Padahal, ada yang lebih penting dari sekedar perdebatan yang selalu berorientasi sekedar pakem asli atau tidak asli. Yaitu tentang eksistensi dan  memperpanjang nafas musik keroncong semakin jauh dari kepunahan.

“Lalu apa yang menjadikan keroncong tetap bertahan, kendati ruang eksistensinya kian menyempit? Adakah mereka berproses untuk pengembangan atau hanya menjadikannya kelangenan dari kenangan masa lalunya?”

Ketika sampai pada pertanyaan diatas, maka barangkali yang cukup relevan adalah mendudukan keroncong bukan lagi sekedar sebagai seni hiburan untuk tujuan ekonomi, melainkan sebagai salah satu pusaka bangsa yang harus dilindungi keberadaannya. Karena itu, seluruh kepentingan yang berkait dengan keroncong setidaknya bukan lagi semata-mata tanggung jawab seniman, namun juga pemerintah pada khususnya, serta masyarakat penyangganya.

Menjadi kewajiban Negara dan Bangsa untuk memelihara dan melindungi musik yang merupakan warisan khas dan langka ini. Bahkan bukan tidak mungkin keroncong pun menjadi warisan budaya dunia. Kalau sudah demikian, maka kekuatiran masyarakat khususnya yang selalu berpegang pada aturan tradisi dan ketakutan akan punahnya keroncong tidak perlu terjadi lagi. Sebab setiap elemen dari bagian Negara dan Bangsa Indonesia telah menempatkan keroncong pada posisi terhormat yaitu sebagai warisan seni dan budaya Indonesia yang harus dijaga bersama eksistensinya seiring perkembangan jaman.

KERONCONG SEBAGAI WARISAN SENI & BUDAYA

Saat ini, keroncong masuk dalam wilayah Dinas Pariwisata dan Budaya, maka keroncong menjadi bagian dari aset pariwisata, atau tradisi, dan budaya. Dan pertanyaannya, apakah keroncong masuk dalam wilayah budaya ataukah seni? Sebelumnya, keroncong masuk dalam wilayah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. “Keroncong sebagai seni saat ini dijadikan tradisi. Ia tidak lagi dipandang sebagai sebuah kesenian, melainkan tradisi,” dituturkan Kelly Puspito seorang pencipta lagu keroncong asal Kota Semarang.

“Untuk itu, harus ada perubahan secara pelan mengenai perkembangan keroncong ini. Perubahan ini harus bisa melihat kondisi psikologis pecinta musik keroncong yang sudah menginjak usia senja, dan melihat psikologis jiwa muda saat ini,” kata Kelly Puspito.

Dilihat dari sudut tradisi maupun seni, keberadaan keroncong harus dipertahankan. Karena, keroncong menjadi bagian seni juga tradisi yang pernah mengisi peradaban bangsa. “Dan mestinya, keroncong diajarkan di sekolah-sekolah sebagai muatan lokal. Namun biarkan siswa sendiri yang memilih, bukan guru yang menentukan. Apakah keroncong masa kini atau keroncong jenis masa lalu yang mereka pilih. Itu adalah hak mereka, biarkan mereka yang memilih,” Kelly mempertegas.

JALAN PANJANG REGENERASI KERONCONG

“Diperlukan semacam daya juang, stamina dan semangat yang tinggi di kalangan ‘orang dalam keroncong’, perjalanan yang memang masih jauh, apapun itu harus dimulai dari sekarang. kalau tidak kapan lagi,” demikian dipaparkan Musafir Isfanhari agar keroncong tetap hidup.

Di sisi lain, memang kita butuh figur kuat yang secara tegas berada dalam pusaran keroncong. Seperti dalam dangdut, ada figur Rhoma Irama, dan di titik ini keroncong belum memiliki figur yang berdiri kokoh tegas. Sosok Rhoma Irama sebagai figur yang tak goyang oleh guncangan manakala diejek dan dicerca oleh pemusik di luar dangdut, bahkan ide-idenya tetap kreatif dan inovatif hingga akhirnya dangdut yaa makin merambah di kalangan atas. Keroncong membutuhkan figur kuat yang tidak semata-mata menyanyikan lagu keroncong repertoir lama tetapi juga menelorkan lagu-lagu keroncong baru yang lebih kontekstual dengan jamannya.

Keadaan lain sperti dituturkan oleh Musafir Isfanhari adalah bahwa keroncong butuh semacam ‘maecenas’ atau dewa pelindung kesenian atau dalam kata lain yang betul-betul memberikan perlindungan baik material maupun moral. Namun, masalah-masalah yang diungkap tersebut kerapkali menjadikan dinding pemisah antara pelaku keroncong dengan realita keroncong yang ada saat ini.

Masa depan keroncong bertumpu pada generasi muda dan sistem yang dibangun untuk melestarikan dan mengembangkan keroncong. Sehingga dengan demikian tuntutan untuk melakukan transfer ilmu dan kemampuan dalam ber-keroncong harus dibangun sejak dini. Pendidikan keroncong secara formal dan informal harus dikembangkan dan didukung dengan berbagai aspek, baik aspek teknis maupun non-teknis yang mengarah pada kejayaan keroncong di masa mendatang. (disadur dari tjroeng)

DARI INDONESIA KE MANCANEGARA

Musik keroncong sering memperoleh perhatian dari musisi dan industri rekaman musik mancanegara. Mereka menilai keroncong punya nilai lebih sebagai musik Indonesia. Musisi Eugene Bick dari Family Man Indianapolis . Amerika Serikat pada tahun 1996 sempat bermaksud memproduksi keroncong untuk konsumsi penggemar musik di negerinya.

Bick menjelaskan, masyarakat Amerika amat mendambakan bentuk-bentuk kesenian yang punya keunikan, keroncong selain mengambil bentuk musik Barat yang komunikatif juga menyajikan harmoni yang khas Timur. Terutama unsur cengkok dalam musik keroncong merupakan sesuatu yang tak terdapat dalam musik Barat.

Tanpa menggunakan kata musik, keroncong sudah cukup jelas mewakili bahwa inilah musik artistik penduduk kepulauan rumpun Melayu bernama Indonesia, dengan pola ritme gitar pengiring, ukulele, cello yang dipetik merupakan ciri khas gamelan dan musik gendang Melayu. Falsafah gamelan Bali, Jawa, Sunda dan gendang Melayu jelas dianut keroncong. Biola yang membawakan tema lagu, diikuti instrumen lainnya yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya melalui adaptasi naluri serta timbang rasa, yang tidak lazim dalam musik Barat.

Itulah kekuatan keroncong yang sekarang menjadi made in Indonesia dan dikagumi dunia internasional karena berpegang teguh pada kaidah-kaidah adiluhung mempertahankan keaslian estetika musikalitasnya.

Pelestarian keroncong memang harus dikembalikan ke tengah-tengah masyarakat hingga terbuka ruang apresiasi seluas-luasnya. Keroncong jangan hanya dikemas dalam pertunjukan eksklusif, karena masyarakat awam yang biasanya berapresiasi, sesuai dengan ciri keroncong sebagai seni kerakyatan yang mudah berubah mengikuti situasi dan berkembang seiring dinamika budaya masyarakat.

Hal ini diungkapkan pemusik FX Sutopo, dalam dialog musik keroncong di Taman Budaya Yogyakarta, 23 Desember 2005, 4 hari setelah Festival Keroncong Yogyakarta 2005.

Sutopo melanjutkan bahwa sebagai sebuah seni kerakyatan keroncong harus didekatkan dengan masyarakat. Sehingga, bisa muncul kembali di tengah kehidupan orang banyak seperti pesta pernikahan, khitanan atau panen padi. Namun demikian keroncong bisa juga dikembangkan melalui ajang non-lomba, supaya peserta tidak terbebani dengan berbagai syarat. Sehinga ajang itu bisa menjadi ruang kreatif yang luas, berproses secara alami tanpa beban persyaratan tertentu sebagaimana sebuah perlombaan.

Keroncong sebenarnya tidak pernah redup dalam kehidupan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kalau di Yogyakarta, Solo, Semarang dan kota-kota Jawa Tengah lainnya denyut keroncong tetap terasa, walaupun kadang bergelora kadang lesu manja, begitu pula di Jawa Timur.

SEPENGGAL CERITA TENTANG PAMORI MALANG RAYA

Sebuah komunitas pecinta keroncong berdiri bulan Oktober 2004 di Malang Pamori (Paguyuban Artis dan Musisi Orkes Keroncong Indonesia) Malang Raya, yang merupakan cabang dari Pamori Jawa Timur. Yang menarik dan membanggakan adalah, Pamori didukung Rektor Unibraw (Universitas Brawijaya) Prof Dr Ir Bambang Guritno dan semangat Prof Dr Ir Yogi Sugito, yang sejak 1996 membidani parade musik keroncong di perguruan tingginya. Pamori Malang Raya diketuai Nur Basuki, yang juga adalah dosen Fakultas Pertanian Unibraw.

Jadi tidak heran jika hampir setiap Senin sekitar pukul 20.00 – 23.00, rumah besar Prof Dr Ir Yogi Sugito di Jalan Karet, Malang, terdengar sayup-sayup musik dan syair lagu keroncong. Suara musik itu datang dari lantai 2 yang memang khusus disediakan sebagai posko Pamori Malang Raya. Di situlah sekitar 15 anggotanya mengasah keahlian memainkan alat-alat musik khas keroncong seperti ukulele, biola, cello, gitar akustik dan seruling. Tak ketinggalan para para penyanyi juga melatih vokal bersama-sama.

“When marimba rhythm start to play, dance with me, make me sway. Like the lazy ocean, hugh to shore hold me close, sway me shore,……”, syair lagu Sway itu dinyanyikan salah satu penyanyi keroncong, Retno Suntari yang tergabung dalam Pamori Malang. Retno yang tak pernah lepas dari bunga melati di rambutnya itu menyanyikan lagu dengan riangnya. Diikuti Yogi Sugito menyanyikan My Way, Fatwa Pujangga, Pepito, dan lagunya

Setelah Pamori Jatim berediri, anggota-anggotanya langsung membentuk sektor-sektor perwakilan Pamori di sejumlah daerah seperti Kepanjen, Singosari, Turen, dan sejumlah wilayah yang siap dikembangkan musik keroncong. Harapan menjadikan musik keroncong kembali jaya seperti tahun 1940-1950-an di Malang sangat diharapkan keaktifan sekitar 12 grup orkes keroncong yang masih aktif, antara lain Gita Puspita, Gita Kusuma, Candra Kirana, Ersa Karsa Nadana dan Tirta Melody.

(Tulisan tersebut diatas adalah acuan dasar material sarasehan yang akan disampaikan setiap pembicara dan sebagai materi bacaan pada setiap hadirin peserta)

Daftar Pustaka :
Majalah Gong
Wikipedia
Musisi.com
tjong

Entry Filed under: hot issue. Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts